


SURABAYA – Sektor teknologi kesehatan di Indonesia kini tengah memasuki era transformasi besar, di mana kolaborasi antara inovasi teknik dan kebutuhan klinis menjadi kunci utama. Menanggapi tantangan tersebut, Departemen Teknik Biomedis menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Mewujudkan Kesehatan yang Lebih Baik: Peran Teknik Biomedis dalam Pengembangan Teknologi Medis dalam Industri” pada Jumat, 3 Maret 2026.
Acara yang berlangsung secara hibrida ini menghadirkan narasumber istimewa yang merupakan praktisi sekaligus alumni program Magister Teknik Biomedis, Ronald Eric, S.T., M.T. Kehadiran Ronald membawa perspektif segar mengenai bagaimana teori-teori di bangku perkuliahan diimplementasikan langsung dalam skala industri alat kesehatan.
Inovasi Berbasis Kebutuhan Industri
Dalam paparannya, Ronald Eric menekankan bahwa seorang lulusan teknik biomedis memiliki peran vital sebagai “penerjemah” antara kebutuhan medis dokter dengan solusi teknis para insinyur. Ia menyoroti bahwa pengembangan teknologi medis saat ini tidak hanya berfokus pada kecanggihan fitur, tetapi juga pada efisiensi biaya, kemudahan manufaktur, dan kepatuhan terhadap regulasi ketat.
“Di industri, kita tidak hanya dituntut membuat alat yang canggih secara fungsi, tetapi juga bagaimana alat tersebut dapat diproduksi secara massal dengan standar keamanan yang tinggi agar benar-benar dapat dijangkau oleh masyarakat luas,” ujar Ronald di depan para mahasiswa.
Penguatan Materi: Standar Laboratorium ke Industri
Melengkapi perspektif praktis tersebut, Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., CCD, selaku KPS S2 Teknik Biomedis Universitas Airlangga, turut memberikan tambahan materi mendalam mengenai standardisasi material medis. Beliau menekankan bahwa inovasi industri harus berpijak pada riset biomaterial yang kuat.
“Apa yang disampaikan Bapak Ronald mengenai manufaktur massal sangat berkaitan dengan pemilihan material yang biokompatibel. Di level magister, kita mendalami bagaimana interaksi antara perangkat dengan tubuh manusia. Tanpa pemahaman material yang presisi, produk industri tidak akan lolos sertifikasi klinis,” tegas Prof. Yanti.
Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa harus mulai akrab dengan konsep Quality Management System sejak di bangku kuliah agar saat terjun ke industri, mereka sudah siap menghadapi audit regulasi yang ketat.
Peluang dan Tantangan Lokal
Ronald juga membedah potensi besar industri alat kesehatan dalam negeri. Menurutnya, ketergantungan pada produk impor masih menjadi tantangan sekaligus peluang emas bagi para insinyur lokal untuk menciptakan inovasi orisinal. Beberapa poin krusial yang dibahas meliputi:
* Siklus Pengembangan Produk: Dari riset dasar, pembuatan prototipe, hingga uji klinis dan sertifikasi izin edar.
* Standar ISO dan Regulasi: Memahami pentingnya standar kualitas internasional dalam perancangan perangkat medis.
* Teknologi Wearable dan Monitoring: Tren masa depan yang memungkinkan pemantauan kesehatan secara mandiri di luar rumah sakit.
Inspirasi Bagi Mahasiswa
Kuliah tamu ini tidak hanya fokus pada materi teknis, tetapi juga memberikan gambaran mengenai jenjang karier di dunia industri. Sebagai alumni, Ronald memberikan motivasi kepada mahasiswa agar terus memperkuat kemampuan multidisiplin, mengingat teknik biomedis melibatkan lintas ilmu seperti elektronika, informatika, mekanika, dan biologi.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis, di mana para mahasiswa antusias berdiskusi mengenai prospek riset mereka untuk dapat dikomersialisasikan. Dengan adanya kuliah tamu ini, diharapkan tercipta keselarasan (link and match) antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan nyata di dunia industri kesehatan nasional.