
Pathum Thani, Thailand – 1 Mei 2026 – Konferensi internasional tahunan ke-11 RSU InternationalResearch Conference 2026 yang digelar di Kampus Rangsit University, Thailand, berlangsung meriah. Acara yang secara resmi dibuka oleh President of Rangsit University ini menjadi panggung gemilang bagi para peneliti dari berbagai negara. Tak kurang dari empat presenter Universitas Airlangga sukses memukau ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa biomedical engineering Rangsit University, dosen, praktisi ortopedi, hingga siswa SMA setempat.

Sesi plenary menjadi puncak acara dengan hadirnya Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., CCD dari Universitas Airlangga, Surabaya, sebagai keynote speaker. Dalam presentasinya yang berdurasi 30 menit, Prof. Yanti menyampaikan orasi ilmiah berjudul:
“Clinical Potential of Chitosan–Gelatin Hemostatic Sponges for Surgical Use with Specific Application in Neurosurgery”
Di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi Thailand, Prof. Yanti menjelaskan bahwa kontrol perdarahan yang efektif merupakan kebutuhan kritis dalam bedah saraf. “Bahkan perdarahan minor dapat mengganggu visibilitas operasi, meningkatkan tekanan intrakranial, dan memperbesar risiko pascabedah,” ujarnya.
Beliau memaparkan temuan terbaru bahwa hemostatic sponge berbahan dasar kitosan-gelatin dengan perbandingan 1:1 menunjukkan karakteristik fisiko-kimia yang sangat sesuai untuk aplikasi bedah saraf. “Material ini tidak hanya menghentikan perdarahan, tetapi juga mendukung infiltrasi sel, angiogenesis, dan regenerasi jaringan awal. Ini adalah lompatan besar untuk keselamatan bedah saraf,” tegas Prof. Yanti pada pemaparannya.

Di Ruangan R 305 A, dua peneliti muda Indonesia dari Program Magister Teknik Biomedis Universitas Airlangga mempresentasikan hasil penelitian mereka Dimulai dengan, Muhammad Hafizh Athari (Thor) pada pukul 11.20 WIB (Thailand) menyampaikan penelitian berjudul “Multilayer Fiber of PLA-PCL-PMMA-Collagen as Meniscal Scaffold”. Studi ini berfokus pada pengembangan scaffold untuk regenerasi meniskus menggunakan teknik electrospinning multilayer, yang dinilai menjanjikan untuk terapi cedera lutut di masa depan.

Disusul Rafi Ihsana Azka pada pukul 11.40 WIB (Thailand) yang mempresentasikan karyanya berjudul “Chitosan-Collagen Based Hydrogel with Binahong Leaf Extract as Candidate for Topical Hemostatic Agent”. Inovasi hydrogel ini memanfaatkan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) yang dikenal secara turun-temurun memiliki khasiat mempercepat penyembuhan luka, kini dikemas dalam formula biomaterial modern.
Sementara itu, di Ruangan R 304 A, Nabil Abdulkarim Ishaq menyampaikan penelitiannya yang berjudul *”Development-Oriented Evaluation of YOLOv8 for Real-Time Face Detection in Unconstrained Video Streams”*. Sesi ini menarik perhatian karena aplikasi deteksi wajah secara real-time menggunakan algoritma YOLOv8 versi terbaru, yang relevan di era pengawasan cerdas, sistem keamanan biomedis, hingga antarmuka manusia-komputer.

Di setiap ruangan, sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Puluhan mahasiswa dan dosen biomedik Rangsit University mengajukan pertanyaan kritis. Pada sesi keynote, pertanyaan mengalir seputar mekanisme degradasi material di dalam tubuh hingga potensi uji klinis. Pada sesi Thor dan Rafi, audiens antusias menanyakan skalabilitas produksi scaffold dan efektivitas binahong dibandingkan agen hemostatik komersial. Sementara pada sesi Nabil, diskusi hangat terjadi seputar akurasi YOLOv8 dalam kondisi pencahayaan buruk dan potensinya untuk aplikasi medis.
“Kami sangat terkesan dengan pendekatan biomaterial dalam regenerasi jaringan manusia yang dipaparkan para peneliti Indonesia. Begitu juga dengan teknologi AI yang dipresentasikan. Ini adalah salah satu konferensi terbaik yang pernah kami ikuti,” ujar salah satu peserta RSUCON.
Oleh : M Hafizh Athari – Mahasiswa S2 Teknik Biomedis Unair