


SURABAYA – Dunia pengobatan kanker terus mengalami terobosan guna meminimalisir efek samping pengobatan konvensional yang kerap merusak sel sehat. Menanggapi urgensi tersebut, Departemen Teknik Biomedis menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Supramolecular Polymeric Nanoparticle untuk Kemoterapi yang Selektif” pada Senin, 16 Maret 2026.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang merupakan pakar di bidang biomaterial sekaligus alumni berprestasi, Fasih Bintang Ilhami, S.Kep., M.T., Ph.D. Saat ini, beliau mengabdikan diri sebagai akademisi dan peneliti di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kehadiran Dr. Fasih menjadi istimewa karena latar belakang pendidikannya yang unik, memadukan ilmu keperawatan (S1) dengan teknik biomedis (S2 dan S3).
Nanopartikel: “Peluru Kendali” untuk Sel Kanker
Dalam paparannya, Dr. Fasih menjelaskan bahwa salah satu kelemahan utama kemoterapi saat ini adalah sifatnya yang tidak spesifik, sehingga seringkali menyerang sel-sel tubuh yang normal. Inovasi yang beliau tawarkan adalah penggunaan Supramolecular Polymeric Nanoparticle.
Sistem ini bekerja seperti kendaraan pengantar obat berukuran nano yang dirancang khusus untuk hanya melepaskan muatan obatnya ketika sampai di lingkungan sel kanker. “Interaksi supramolekul memungkinkan struktur partikel ini menjadi lebih fleksibel namun tetap stabil, sehingga mampu membawa obat secara selektif menuju target tanpa meracuni jaringan sehat di sekitarnya,” jelas Dr. Fasih.
Keunggulan Sistem Supramolekul
Beberapa keunggulan dari riset yang dipaparkan antara lain:
* Biokompatibilitas Tinggi: Menggunakan material polimer yang aman dan dapat diterima dengan baik oleh tubuh manusia.
* Pelepasan Terkontrol (Controlled Release): Obat hanya dilepaskan berdasarkan pemicu tertentu, seperti perubahan tingkat keasaman (pH) di area tumor.
* Efisiensi Terapi: Meningkatkan konsentrasi obat pada target, sehingga dosis yang diperlukan bisa lebih rendah namun tetap efektif.
Persfektif Akademis: Pentingnya Hilirisasi
Menanggapi paparan tersebut, Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., CCD, selaku Ketua Program Studi S2 Teknik Biomedis Universitas Airlangga, memberikan apresiasi tinggi terhadap riset ini. Menurutnya, inovasi di level molekuler seperti ini adalah kunci masa depan pengobatan presisi di Indonesia.
“Riset mengenai sistem penghantaran obat yang cerdas (smart drug delivery system) seperti yang dikembangkan Dr. Fasih merupakan langkah nyata menuju era pengobatan personal. Kami di program studi terus mendorong para mahasiswa dan peneliti untuk tidak hanya berhenti di skala laboratorium, tetapi juga mulai memikirkan aspek biokompatibilitas dan regulasi agar teknologi ini siap menuju tahap hilirisasi,” ujar Prof. Yanti.
Beliau juga menambahkan bahwa keunggulan sistem supramolekul ini terletak pada efisiensi terapinya. Dengan pelepasan terkontrol (controlled release) berdasarkan pemicu seperti perubahan pH di area tumor, dosis obat dapat ditekan serendah mungkin tanpa mengurangi efektivitas klinisnya.
Inspirasi Perjalanan Akademik dan Kolaborasi
Selain memaparkan materi teknis, Dr. Fasih juga berbagi pengalaman mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Prof. Yanti pun mengamini hal tersebut dengan menekankan bahwa Teknik Biomedis memang sejatinya adalah “jembatan” antara dunia teknik dan kedokteran.
“Sosok Dr. Fasih adalah bukti nyata bahwa latar belakang klinis keperawatan yang dipadukan dengan penguasaan teknologi teknik biomedis mampu melahirkan inovasi yang aplikatif. Ini adalah semangat interdisipliner yang selalu kami tanamkan pada mahasiswa S2 Teknik Biomedis UNAIR,” tambah Prof. Yanti.
Kuliah tamu ini diakhiri dengan diskusi interaktif mengenai prospek implementasi riset nanopartikel di Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa terinspirasi untuk terus mengembangkan riset yang memiliki dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam penanganan penyakit kritis.