
Dalam upaya mewujudkan visi sebagai pusat keunggulan riset teknologi medis di tingkat global, mahasiswa program magister (S2) Teknik Biomedis Universi-tas Airlangga (UNAIR) berkesempatan melaksanakan kunjungan akademik internasional ke Thailand. Atas undangan dan pendampingan dari perwakilan Rangsit University, delegasi UNAIR meninjau langsung salah satu fasilitas riset dan produksi medis paling mutakhir di Asia Tenggara: Advanced Cell Therapy and Biomedical Device Manufacturing Center (CTEMED). Fasilitas berskala internasional ini merupakan bagian dari jaringan Faculty of Medicine Ramathibodi Hospital, Mahidol University, yang berlokasi di dalam kompleks megah Chakri Naruebodindra Medical Institute (CNMI). Kunjungan ini memberikan wawasan eksklusif mengenai transisi teknologi medis dari ranah penelitian dasar di laboratorium (bench) menuju aplikasi klinis untuk pasien (bedside), khususnya dalam bidang terapi sel punca (stem cell) dan rekayasa jaringan (tissue engineering).
Selama kunjungan, delegasi UNAIR yaitu Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes, S.Bio, CCD yang juga Koordinator Program Studi Magister (S2) Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, dan 3 mahasiswa S2 Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yaitu Rafi Ihsana Azka, Muhammad Hafizh Athari, Nabil Abdulkarim Ishaq diajak berkeliling melihat fasilitas cleanroom dan laboratorium produksi, termasuk ruang Biological Testing (Room 109). Di fasilitas ini, peneliti dan teknisi bekerja dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP) yang sangat ketat untuk memastikan kualitas dan sterilitas produk biologis. Pihak CTEMED memaparkan bahwa fasilitas mereka tidak hanya berfokus pada kul-tur sel konvensional, tetapi juga mengintegrasikan teknologi rekayasa genetika dan terapi sel tingkat lanjut, yang sangat esensial untuk pengobatan penyakit degeneratif, kelainan darah (seperti Thalasemia), hingga terapi kanker.
Salah satu fokus utama dari kunjungan ini adalah pemaparan mendalam mengenai peng-gunaan teknologi Bio 3D Printing. Dalam rekayasa jaringan, scaffold atau perancah medis berfungsi sebagai matriks ekstraseluler buatan yang memfasilitasi adhesi, prolife-rasi, dan diferensiasi sel. Peneliti di CTEMED mendemonstrasikan proses pencetakan scaffold menggunakan bio-ink (tinta biologis) khusus. Material yang digunakan memiliki karakteristik unik: mampu mempertahankan integritas dan kekuatan mekanis struktur secara makro, namun tetap memiliki tekstur yang menyerupai gel (hidrogel) dan kaya akan kelembapan. Karakteristik biomimetik ini sangat krusial karena mampu meniru lingkungan mikro alami jaringan tubuh manusia, sehingga meningkatkan viabilitas dan pertumbuhan stem cell yang ditanamkan di dalamnya.
Lebih jauh lagi, delegasi UNAIR menyaksikan langsung aplikasi tingkat lanjut dari bio 3D printing, yaitu rekayasa bentuk anatomi organ manusia. Pihak CTEMED saat ini sedang mengembangkan teknik pencetakan purwarupa telinga manusia secara detail dan presisi tinggi menggunakan stem cell dan bio-ink tulang rawan (cartilage). Inovasi ini menjadi angin segar bagi dunia bedah rekonstruksi, khususnya bagi pasi-en dengan kelainan bawaan seperti mikrotia (telinga yang tidak berkembang sempurna) atau korban trauma. Secara tradisional, rekonstruksi telinga melibatkan prosedur invasif dengan mengambil tulang rawan iga pasien (autologous costal cartilage), yang berisiko menimbulkan komplikasi dan rasa sakit di area pendonor. Melalui teknologi 3D biop-rinting, telinga yang identik dengan anatomi pasien dapat dicetak secara kustomisasi menggunakan sel pasien itu sendiri, sehingga meminimalisasi risiko penolakan imun dan trauma operasi.
Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari Ramathibodi Hospital ini sangat re-levan dengan fokus riset S2 Teknik Biomedis UNAIR, yang meliputi instrumentasi medis, biomaterial, dan biomekanika. Integrasi antara ilmu sel punca dan teknik rekayasa ma-terial (seperti pengembangan hydrogel dan polimer medis) merupakan kunci masa depan kedokteran regeneratif. Kunjungan ini diharapkan dapat mempererat kolaborasi riset antara Universitas Air-langga dan institusi di Thailand (baik Rangsit University maupun Mahidol University), serta menginspirasi mahasiswa S2 Teknik Biomedis UNAIR untuk terus mengembangkan inovasi alat kesehatan dan material medis buatan dalam negeri yang mampu bersaing di kancah global.
Penulis : Rafi Ihsana Azka